
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Gresik, Janoe Tegoeh Prasetijo (ist)
GRESIK, BIDIKNASIONAL.com – BPJS Kesehatan mendorong transformasi layanan jantung pada Program JKN melalui pendekatan Value-Based Health Care. Pendekatan tersebut menempatkan hasil kesehatan dan total biaya sepanjang siklus pelayanan sebagai dasar dalam menciptakan nilai bagi peserta.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Gresik, Janoe Tegoeh Prasetijo, mengatakan transformasi layanan diperlukan untuk menjawab tantangan peningkatan biaya pelayanan kesehatan sekaligus memastikan pembiayaan JKN memberikan manfaat kesehatan yang optimal bagi peserta. Baginya, kelanjutan Program JKN tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam membiayai pelayanan kesehatan, tetapi oleh kemampuan untuk memastikan hasil kesehatan yang lebih baik bagi rakyat Indonesia.
“Tantangan peningkatan biaya pelayanan kesehatan terlihat dari tingginya pembiayaan di rumah sakit. Dari data BPJS Kesehatan, total biaya pelayanan kesehatan Program JKN pada tahun 2025 mencapai Rp925,8 miliar,” terang Janoe, Kamis (17/9).
Janoe menambahkan, penyakit jantung menjadi salah satu perhatian dalam Program JKN seiring tingginya pemanfaatan layanan dan biaya yang dibutuhkan. Pada tahun 2025, penyakit jantung yang dijamin oleh Program JKN di Kabupaten Gresik tercatat lebih dari 7 ribu kasus dengan pembiayaan sekitar Rp22,6 miliar.
“Tingginya kebutuhan pelayanan jantung dalam ekosistem JKN perlu diantisipasi sejak dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan mengendalikan faktor risiko. Banyak kasus penyakit jantung yang merupakan dampak faktor risiko yang tidak terkendali di hulu, untuk itu perlu penguatan pelayanan di tingkat FKTP,” jelasnya.
Dalam pendekatan Pelayanan Kesehatan Berbasis Nilai, FKTP diperkuat sebagai pengendalian kasus jantung melalui upaya promotif dan preventif. Menurut Janoe, penguatan tersebut mencakup pengendalian tekanan darah dan gula darah, pemantauan HbA1C secara rutin, kepatuhan pengobatan, serta pemantauan peserta berisiko tinggi.
“Di rumah sakit, BPJS Kesehatan juga mendorong pelayanan yang berorientasi pada mutu dan hasil. Sejumlah pendekatan yang dikembangkan antara lain pengambilan keputusan terpadu melalui Tim Jantung, tata laksana klinis sesuai pedoman, pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), dan revaskularisasi bertahap,” tambah Janoe.
Janoe menuturkan, BPJS Kesehatan juga mendorong perubahan indikator monitoring mutu penjaminan pelayanan intervensi jantung dari indikator proses menuju indikator outcome. Indikator yang mencakup waktu tanggap kritis, keselamatan pasca tindakan, akurasi intervensi, kualitas pemulihan, ketersediaan protokol, serta efisiensi sistem rujukan.
“Kita ingin mengubah paradigma dari membayar jasa menjadi membeli hasil yang lebih baik, dari mengobati kejadian menjadi mencegah kejadian, serta dari mengukur utilisasi menjadi mengukur hasil,” kata Janoe.
Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi. Kemudahan akses, kecepatan layanan, serta kualitas layanan juga menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Hal ketiga tersebut dirasakan oleh salah satu peserta JKN dari Kabupaten Gresik yang telah memanfaatkan layanan JKN untuk kesehatan jantungnya selama 15 tahun, Susi (65).
“Alhamdulillah saya berobat jantung rutin setiap bulan, semua dijamin oleh JKN. Terima kasih kepada BPJS Kesehatan yang selalu berupaya meningkatkan kualitas layanan khususnya layanan jantung ini. Saya sangat merasa nyaman dan aman,” puji Susi. (bp/qa/red)



