ACEH

Saifulah Hidup Dengan Keterbelakangan Metal Dan Cacat Fisik

GAYO LUES, ACEH, BN – Saifulah anak no 2 dari 4 bersaudara dengan kondisi cacat dari sejak kecil ditambah dengan keterbelangan mental. Dengan kesabaran Muhammad Judin dan tok Wanda sebagai orang tua untuk mengasuh dan membesarkan Saifulah dengan keterbatasan penghasilan sebagai petani.

Keluarga Muhammad Judin yg hidup serba pas pasan sebagai petani di desa Penosan sepakat,   kecamatan Blang jerango  harus menghidupi 4 anaknya. Saifulah anak no 2 mengalami kecacatan mental dan cacat fisik semenjak umur 7 bulan. Karena kondisi ekonomi pas pasan tidak bisa membawa ke rumah sakit saat Saifullah jatuh sakit. Karena ketidak mampuannya orang tua nya membawa ke rumah sakit berakibat Saifulah mengalami kecacatan fisik dan keterbelakangan mental.

Sstelah sholat Jumat pk. 13.30 BN mendatangan kediamannya Muhammad Judi yang sederhana, Jumat  (23/11)  di sambut ibu Saifulah yang penuh ramah. Ibu Saiful yang akrap di panggil tok Warda di desa penosan sepakat.

Sementara BN bercerita sama ibunya Saifullah ( tok Warda ), BN memperhatikan Saifullah melihat TV sambil memainkan Hp dengan lincahnya ujung jari kaki nya. Tidak disangka Saifullah bicara yang kurang jelas sama BN. Ibu nya Saifullah menterjemahkan bahasa dan gerak gerik dari Saifulah. Saifulah meminta rokok sama BN. Lalu Saifulah merokok memakai kaki kirinya untuk memegang rokok.

“Saifulah lahir pada tahun 1998  waktu dia lahir belum nampak  seperti ini, waktu umur 7 bulan  mau dibuat  namanya Saifulah nangis aja. Waktu itu saya lupa nama nya siapa, kalau namanya sekarang Saifulah” ungkap tok Warda dengan sedih.

Kalau mengenai makan Saifulah di suapi karena tangannya tidak bisa digerakkan. Sedangkan kalau mau mandi Saifulah harus di gendong kekamar mandi digendong sama bapaknya. 10 tahun lalu pernah mendapat bantuan kursi roda. Sekarang ini sudah tidak punya kursi roda karena kursi rodanya sudah rusak beberapa tahun lalu, lanjutnya.

“Saifullah kalau ada kawan nya yang datang ke rumahnya duduk duduk di depan rumahya. Saifulah tidak bisa seperti anak lajang lainnya bisa bermain kesabaran sini. Ada keinginan Saifulah untuk “berdagang pulsa” tapi uang untuk modal dari mana….?” Keluh Tom Warda dengan sedih.

Ya nama kita sebagai orang tua yang pekerjaan sebagai petani harus menerima dan bersyukur kepada yang maha kuasa segala yang ada kurangan atau pun kelebihan kan hanya maha kuasa yang tahu kita sebagai orang tua harus tabah menjalani hidup ini, pungkasnya. (dir)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button